Kemiskinan Sekedar Angka? (Refleksi Standar BPS dan Bank Dunia)

by | Jun 12, 2025 | Gaya Hidup

oleh : Rayhana Radhwa (Narasumber Majelis Taklim Kamila)

Bank Dunia merilis laporan bahwa penduduk miskin Indonesia mencapai 171,8 juta jiwa. Wow, angka yang fantastis karena bila dipersentase mencapai 60,3%. Lebih dari separuh penduduk Indonesia. Angka ini muncul pada laporannya yang bertajuk Macro Poverty Outlook April 2025. Menariknya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka kemiskinan hanya 8,57% atau sejumlah 24,06 juta jiwa pada September 2024. Perbedaan angka yang mencolok ini disebabkan oleh perbedaan standar garis kemiskinan yang digunakan oleh Bank Dunia dan BPS.

Bank Dunia memakai 3 standar estimasi tingkat kemiskinan dengan perhitungan daya beli penduduk suatu negara. Pertama, perhitungan garis kemiskinan 2,15 dolar Amerika Serikat (AS)/kapita/hari untuk mengukur kemiskinan ekstrem. Kedua, angka 3,65 dolar AS/kapita/hari yang digunakan untuk mengukur kemiskinan negara berpendapatan menengah ke bawah. Ketiga, 6,85 dolar AS/kapita/hari untuk estimasi kemiskinan negara berpendapatan menengah atas. Lalu dari ketig standar tersebut, manakah yang dipakai Bank Dunia untuk mengukur kemiskinan di Indonesia?

Sejak tahun 2023, Indonesia dengan bangga masuk dalam jajaran negara berpendapatan menengah ke atas berdasarkan pendapatan nasional bruto/kapita sebesar 4.870 dolar AS. Dengan status baru ini membuat Bank Dunia menggunakan standar 6,85 dolar/kapita/hari yang setara Rp113.777 per hari dalam mengukur tingkat kemiskinan Indonesia.

Sedangkan BPS menggunakan estimasi kemiskinan berdasarkan pengeluaran untuk kebutuhan dasar makanan dan non-makanan. Komponen makanan dihitung berdasarkan 2.100 kilokalori/orang/hari. Sedangkan non-makanan tersusun dari kebutuhan minimum tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, pakaian dan transportasi.

Di Jawa Barat (Jabar), jumlah penduduk miskin berkurang 180.000 orang berdasarkan BPS Provinsi Jabar. Pada September 2024 angka kemiskinan turun menjadi 3,67 juta setelah pada bulan Maret terdapat 3,85 juta penduduk miskin di Jawa Barat. Baik Bank Dunia maupun BPS optimis bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia akan terus menurun karena adanya perbaikan ekonomi dan peningkatan daya beli masyarakat. Kepala BPS Jabar, Darwis Sitorus, menambahkan berbagai program bantuan untuk masyarakat miskin yang diberikan Pemerintah menjadi faktor menurunnya angka kemiskinan.
Namun demikian, kamiskinan struktural masih menghantui perekonomian Indonesia. Kemiskinan structural didefinisikan sebagai kondisi individu yang terjebak lingkaran kemiskinan sistemik akibat faktor-faktor yang lebih dalam seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil dan ketidaksetaraan dalam akses terhadap sumber daya.

Kesenjangan akses sumber daya ini nampak pada adanya berbagai kebijakan-kebijakan yang memanjakan pengusaha oligarki. Contohnya kebijakan memberikan pengelolaan sumber daya alam dan barang yang merupakan hajat hidup orang banyak kepada sektor privat, alih-alih mengelolanya sebagai aset kepemilikan umum yang hasilnya akan dikembalikan sebagai infrastruktur dan fasilitas publik. Kelonggaran demi kelonggaran diberikan kepada konglomerat elit berupa keringanan pajak maupun tarif impor barang mewah.

Perubahan regulasi ekonomi yang masih membiarkan jurang menganga antara masyarakat berada dan masyarakat miskin adalah keniscayaan. Pemberian bantuan sosial bukan bentuk pengentasan kemiskinan karena hanya membantu mempertahankan kehidupan. Lebih dari Pemerintah wajib menetapkan regulasi yang adil dengan distribusi pembangunan yang merata dan kebijakan pembukaan lapangan kerja padat karya. Sistem ekonomi yang lebih berpihak pada konglomerat sektor privat harus diakhiri.

Pemerintah hendaknya berhati-hati dalam menetapkan standar kemiskinan. Sungguh tidak layak apabila pemilihan standar pengukuran didasari pada semangat agar angka kemiskinan seolah-olah turun, padahal kenyataan di lapangan sejatinya tidak. Data yang manipulatif akan berujung pada kebijakan yang tidak tepat sasaran. Misalnya ketika data jumlah masyarakat miskin turun maka akan berdampak pada distribusi anggaran bantuan sosial. Bisa saja terjadi masyarakat miskin yang tadinya mendapat bansos tidak lagi terdata sebagai penerima padahal naiknya penghasilan ternyata tak sebanding dengan laju inflasi. Sangat dzalim apabila siapapun mengotak-atik angka kemiskinan ini karena memandang kemiskinan sebagai angka. Padahal seharusnya kemiskinan dipandang sebagai problem sosial yang harus diselesaikan dan dicari solusinya.

Islam memerintahkan seorang pemimpin untuk memastikan rakyatnya tidak berada dalam kemiskinan dengan berbagai instrument syariah yang wajib diterapkan. Pertama, Islam mendefinisikan kemiskinan sebagai tidak terpenuhi kebutuhan primer sandang, pangan dan papan serta ketidakmampuan mengakses kebutuhan keamanan, pendidikan dan kesehatan. Siapa saja yang tidak terpenuhi salah satu dari kebutuhan ini akan terhitung miskin dan menjadi tanggung jawab penguasa untuk mengentaskannya.
Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang menjadi penduduk suatu daerah, lalu di antara mereka terdapat seseorang yang kelaparan, maka perlindungan Allah SWT terlepas dari mereka.” (HR Ahmad).
Tentu saja sebelum kebijakan pemberian bansos, maka Pemerintah wajib mendahulukan langkah-langkah penyediaan lapangan kerja yang dapat dijangkau oleh setiap laki-laki yang diwajibkan Allah untuk menanggung dirinya dan keluarga. Di sinilah pengutamaan sektor riil, pemerataan pembangunan, proyek padat karya menjadi esensial dalam ekonomi Islam.

Keadilan ekonomi dalam Islam berawal dari konsepsi bahwa Allah telah menetapkan kepemilikan benda-benda yang diciptakanNya. Menurut Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Sistem Ekonomi dalam Islam (Nidzom Al-Iqtishadi fi Al-Islam) terdapat tiga jenis kepemilikan yang akan membuat sumber daya terdistribusi secara adil yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Dengan pembedaan ini, tidak akan ada penguasaan swasta terhadap benda-benda yang merupakan kebutuhan umum masyarakat maupun barang tambang yang cadangannya melimpah ibarat air mengalir.

Melihat gambaran sistem ekonomi Islam yang telah dijelaskan di atas menunjukkan bahwa Islam memandang kemiskinan berawal dari kekeliruan falsafah kepemilikan benda serta distribusinya dalam peradaban kapitalis ini. Jadi penyelesaian kemiskinan dalam Islam bersifat mendasar, sistemik dan ideologis. Meskipun Islam memandang kemuliaan manusia bukan dari harta namun sebagai pedoman peradaban yang sempurna, Islam menuntun tata kelola perekonomian yang berkeadilan bagi rakyat suatu negara.

Artikel Lainnya

Sep 23 2024

Adab Menasehati

Oleh : Yova Meiliza Dalam hadits dari Tamim Ad Dariy radhiallahu’anhu, Rasulullah Saw bersabda:“Agama adalah nasehat”. Para sahabat...
Jul 15 2025

Fantasi Amoral Berujung Bui

Oleh : Aryanti Budi (Aktivis Muslimah Bekasi)Dunia maya telah dikejutkan dengan terkuaknya grup Facebook bernama "Fantasi Sedarah", yang...
Feb 10 2025

Alih Fungsi Lahan Sebab BanjirTerus Mengintai Rakyat

Oleh : Irta Roshita (Aktivis Muslimah Bekasi) Diawal tahun Januari 2025 , cuaca menyebabkan berbagai bencana seperti banjir dn tanah...
Dec 14 2024

Uang Palsu Merebak, Bukti Negara Tidak Stabil

Oleh: Irta Roshita (Aktivis Muslimah Bekasi) Kebutuhan hidup manusia dapat dipenuhi ketika uang dimiliki. Uang adalah alat tukar yang...
Jul 28 2024

4 Tujuan Utama Pernikahan dalam Islam

Pernikahan dalam pandangan islam bukan hanya bertujuan untuk menghalalkan hubungan seksual, walaupun memang itu menjadi salah satu...
Jun 15 2026

Tenaga Asing Masuk, Hak Rakyat Tergeser

oleh : Wiwin Winarti Pengantar Sebanyak 78 warga negara asing (WNA) diamankan dalam operasi pengawasan keimigrasian di kawasan Greenland...
May 15 2026

Kekerasan Seksual Verbal, Cermin Kerusakan Sistem Sosial

Oleh: Netta Sayyidah (Aktivis Muslimah Bekasi) Sudah bukan hal yang tabu pengaruh dan bahaya pornografi menjdi hal yang biasa, hal ini...
Sep 05 2025

Pasar Modern Multi Fungsi, Benarkah Demi Masyarakat Urban?

oleh : Ayin Harlis (Aktivis Muslimah Bekasi) Apa yang kita bayangkan bila seseorang menyebut pasar tradisional? Pedagang berjejalan, bau...
Dec 15 2025

PERAN MUSLIMAH BERDAYA MEMBANGUN PERADABAN YANG KOKOH

Oleh : Lily Kirey (Aktivis Muslimah Bekasi) Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, menghadiri pelantikan DPD Alisa Khadijah Ikatan...
May 13 2025

Nestapa Palestina, Solusinya Bukan Evakuasi dan Gencatan Senjata

Oleh : Ayin Harlis (Aktivis Dakwah) Greg J Stoker, seorang aktivis anti-imperialis mengunggah video yang menunjukkan dugaan jasad warga...
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments