
Oleh: Rahmawati, S.Pd.
(Praktisi Penididkan, Pemerhati Umat dan Aktivis Muslimah Bekasi)
Aksi tawuran diduga antar kelompok genster kembali terjadi di Bekasi pada Sabtu, 11April 2026 pagi. Peristiwa itu terjadi di jalan Ujung Harapan, RT 01 RW 015 Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan sekira pukul 04.00 WIB. Naasnya dari kejadian tersebut satu orang dilaporkan mengalami penganiayaan dan pengeroyokan menggunakan senjata tajam (sajam) di sebagian tubuh. (bekasi.pikiran-rakyat.com)
Lagi dan lagi, hampir setiap hari kita disajikan berita kriminalitas yang tak kunjung berakhir sebaliknya, kriminalitas di Indonesia kian marak dan kian sadis, motif nya beragam, dari mulai konflik pribadi, sosial, ekonomi, bahkan politik.
Krisis Identitas
Dalam perspektif Islam, kekacauan identitas ini bukanlah kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari pemisahan agama dari tatanan kehidupan (sekularisme).
Lemahnya kontrol diri, tidak ada yang memberikan pemahaman bagaimana seharusnya menjalani kehidupan dan krisis identitas akibat sistem pendidikan sekuler menyebabkan generasi mencari jati diri tanpa arahan yang jelas. mereka terombang-ambing di tengah arus pemikiran asing yang menjanjikan kebebasan namun justru membelenggu batin. Kehilangan shibghah (celupan Allah) membuat mereka mencari pengakuan pada materi dan popularitas semu.
Dan pertanyaannya sekarang adalah bagaimana keterkaitan sistem kapitalisme dengan maraknya gengster?
Kapitalisme dan Kemiskinan Struktural
Kemiskinan dalam sistem kapitalisme sering kali bukan disebabkan oleh malasnya individu, melainkan karena desain sistem itu sendiri (struktural).
1️⃣Akumulasi Modal pada Segelintir Pihak
Kapitalisme mengutamakan pemilik modal (kapitalis). Kekayaan terkonsentrasi di atas, sementara pekerja ditekan untuk memberikan produktivitas maksimal dengan upah yang sering kali hanya cukup untuk bertahan hidup.
2️⃣Komersialisasi Kebutuhan Dasar
Kebutuhan pokok seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan dikelola secara bisnis. Hal ini memaksa keluarga berpendapatan rendah mengeluarkan sebagian besar uangnya hanya untuk bertahan hidup.
3️⃣Eksploitasi Tenaga Kerja
Karena biaya hidup yang tinggi, upah satu orang kepala keluarga sering kali tidak lagi mencukupi. Kondisi inilah yang memaksa para ibu keluar rumah untuk bekerja demi menutupi defisit ekonomi keluarga.
Tergerusnya Peran Ibu sebagai Al Umm Madrosatul Ula
Tekanan hidup dalam sistem kapitalisme menciptakan kemiskinan struktural menjadikan para ibu bekerja membantu ekonomi, meninggalkan peran dan tanggung jawab terhadap anak.
Dalam tatanan sosial, peran ibu sangat krusial sebagai pendidik pertama dan utama (Al-Umm Madrasatul Ula). Namun, tekanan kapitalisme mengubah fungsi ini:
1️⃣Peralihan Fokus
Ibu yang bekerja karena keterpaksaan ekonomi sering kali mengalami kelelahan fisik dan mental (burnout). Sesampainya di rumah, energi untuk memberikan kasih sayang, pengawasan, dan pendidikan moral kepada anak sudah terkuras habis.
2️⃣Delegasi Pengasuhan
Pengasuhan anak sering kali didelegasikan kepada pihak ketiga (daycare, pengasuh, atau gadget) yang tidak memiliki ikatan emosional maupun kesamaan visi ideologis dalam mendidik anak.
3️⃣Hilangnya Kedekatan Emosional
Anak tumbuh tanpa figur otoritas moral yang mendampingi proses tumbuh kembangnya, sehingga mereka kehilangan kompas nilai dalam berperilaku.
Kaitan dengan Perilaku Anarkis pada Anak
Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat mendapatkan ketenangan dan arahan, anak akan mencari jati diri di luar. Perilaku anarkis muncul sebagai manifestasi dari beberapa hal:
1️⃣Hilangnya Kontrol dan Pengawasan
Tanpa kehadiran ibu (dan ayah) yang efektif, anak-anak terjun ke lingkungan pergaulan tanpa filter. Mereka menyerap nilai-nilai dari jalanan atau media sosial yang sering kali mengagungkan kekerasan, eksistensi semu, dan pemberontakan tanpa arah.
2️⃣Kompensasi Psikologis
Anak-anak yang kurang kasih sayang dan perhatian cenderung menunjukkan perilaku agresif atau anarkis sebagai bentuk “teriakan” minta tolong atau upaya mencari perhatian. Ketidakstabilan ekonomi di rumah juga menciptakan suasana stres yang diserap oleh anak, yang kemudian diproyeksikan dalam bentuk emosi yang meledak-ledak.
3️⃣Lingkaran Setan Kemiskinan
Kemiskinan struktural membatasi akses anak terhadap pendidikan yang berkualitas dan lingkungan yang sehat. Hal ini menciptakan rasa frustrasi sosial. Ketika mereka melihat kesenjangan yang lebar antara kehidupan mereka dengan apa yang ditampilkan oleh sistem kapitalis (gaya hidup mewah di media), muncul rasa benci terhadap tatanan sosial yang diekspresikan melalui tindakan destruktif atau anarkisme.
Solusi Islam Terhadap Anarkisme
Solusi Pendidikan Berbasis Islam
Untuk mengatasi hal ini, Islam menawarkan konsep Pendidikan yang terintegrasi, yaitu :
📍Aqidah sebagai Dasar
Setiap mata pelajaran (Matematika, Biologi, Sejarah) harus dikaitkan dengan kekuasaan Allah.
📍Tujuan Akhirat
Belajar adalah ibadah. Menjadi ahli profesi (guru, dokter, insinyur) adalah sarana untuk memberikan manfaat bagi umat (khairunnas anfa’uhum linnas).
📍Integrasi Nafsiyah dan Aqliyah
Pendidikan harus membangun cara berpikir yang benar (Aqliyah) dan kecenderungan jiwa yang sesuai syariat (Nafsiyah).
Islam memandang pendidikan sebagai proses Taqarrub (pendekatan diri kepada Allah) dan pembentukan Syakhshiyah Islamiyah (Kepribadian Islam).
Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan generasi ini kecuali dengan mengembalikan Aqidah Islam sebagai fondasi berfikir dan Syariat sebagai standar perbuatan, sehingga setiap individu memahami bahwa hakikat jati dirinya adalah sebagai ’abdullah (hamba Allah) sekaligus khalifatullah fil ardh (wakil Allah di bumi) yang memiliki tujuan hidup yang jelas yaitu ibadah dan meraih rida-Nya.”
Islam memandang bahwa negara bertanggung jawab menjamin kesejahteraan ekonomi melalui pengelolaan sumber daya alam yang benar, sehingga laki-laki mampu menafkahi keluarga dengan layak. Dengan terpenuhinya kebutuhan ekonomi, seorang ibu dapat kembali ke peran fitrahnya sebagai pencetak generasi unggul tanpa merasa terbebani secara finansial.
Perilaku anarkis anak saat ini adalah produk sampingan dari rusaknya tatanan ekonomi dan sosial yang memaksa keluarga berfungsi layaknya mesin produksi, bukan institusi pendidikan iman.
Maka, kesimpulannya adalah bahwa untuk mengembalikan tatanan hidup yang sesuai fitrah manusia, menentramkan hati, dan meyelamatkan jiwa adalah kembali kepada aturan sang Kholiq, Allah Azza Wajalla, dan aturan ini hanya dapat terlaksana secara sempurna oleh sebuah institusi bernama “Daulah Khilafah Islamiyah”.
Wallahu A’lam Bishowab
