Kebijakan WFH Bagi Pekerja, Dampak Krisis Energi, Tepatkah?

by | May 15, 2026 | Gaya Hidup

Oleh: Alifia (Aktivis Remaja Muslimah Bekasi)

Pemerintah resmi menerapkan kebijakan WFH bagi ASN 1 hari dalam seminggu (mulai April 2026) sebagai bagian dari gerakan hemat energi nasional. Menko Perekonomian mengumumkan kebijakan ini disiapkan guna merespons tingginya harga minyak dunia imbas perang di Kawasan Timur Tengah. Diperkirakan penghematan BBM dapat mencapai sekitar 20% atau 1/5 dari konsumsi harian jika kebijakan ini diterapkan secara konsisten. Angka yang diperkirakan Hemat APBN dari kompensasi BBM: ± Rp 6,2 triliun dan potensi penghematan konsumsi masyarakat: ± Rp 59 triliun. (sumber : kompas.com)

Namun demikian, kebijakan WFH tidak dapat diterapkan secara menyeluruh pada semua sektor pekerjaan. Pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik seperti manufaktur, kesehatan, transportasi, dan pelayanan publik tetap harus dilakukan secara langsung. Hal ini membuat efektivitas kebijakan menjadi terbatas hanya pada sektor tertentu.

Di sisi lain, meskipun WFH memberikan fleksibilitas, tidak semua pekerja mampu menjaga produktivitas kerja di rumah. Faktor lingkungan, kedisiplinan, serta keterbatasan fasilitas dapat memengaruhi kinerja. Pada sektor pemerintahan, WFH berpotensi menurunkan kualitas pelayanan publik jika tidak diimbangi dengan sistem digital yang memadai. Masyarakat bisa mengalami keterlambatan layanan.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa Indonesia masih terdampak oleh fluktuasi energi global. Padahal, sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah, Indonesia seharusnya mampu mencapai kemandirian energi. WFH lebih bersifat solusi jangka pendek untuk menekan konsumsi energi. Namun, kebijakan ini belum menyentuh akar masalah seperti pengelolaan energi nasional dan ketahanan energi jangka panjang. Kalau pemerintah serius ingin melakukan penghematan, seharusnya fokus pada pengurangan anggaran proyek mercusuar yang tidak berdampak langsung bagi rakyat. Seharusnya kebijakan publik harus mempertimbangkan dampaknya secara menyeluruh terhadap pelayanan masyarakat dan keberlangsungan aktivitas ekonomi. (sumber : tribunnews.com)

Kondisi seperti ini adalah dampak dari tidak hadirnya peran negara secara utuh dalam mengelola sumber energi dan masyarakat. Hanya islam yang akan menggabungkan agama dengan kehidupan dan mampu menyelesaikan permasalan hingga ke akar nya. Yaitu Dengan penerapan sistem Islam secara menyeluruh.

Dalam sistem Islam, negara memiliki kedaulatan penuh dalam mengatur urusan rakyat berdasarkan syariat. Negara bertanggung jawab memastikan kesejahteraan masyarakat, termasuk dalam pengelolaan energi.

Islam menetapkan bahwa sumber daya alam yang vital seperti minyak dan gas merupakan milik umum yang harus dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada pihak swasta atau asing. Dengan pengelolaan yang sesuai syariat, negara dapat mencapai kemandirian energi sehingga tidak mudah terpengaruh oleh krisis global. Negara akan fokus pada pemanfaatan sumber daya dalam negeri secara optimal.

Pemimpin dalam Islam (khalifah) akan menetapkan kebijakan yang mempertimbangkan manfaat dan mudarat secara menyeluruh. Kebijakan seperti WFH akan dikaji secara mendalam sebelum diterapkan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.

Pekerjaan dalam Islam dipandang sebagai bagian dari ibadah. Oleh karena itu, pekerja akan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan profesionalisme, baik bekerja dari rumah maupun di kantor.

Hanya islam yang akan menggabungkan agama dgn kehidupan , karena pentingnya menjaga kekuasaab dgn hukum2 syariat Allah , oleh karena itu kebijakan lahir dari sistem islam bertujuan untuk melahirkan kesejahtraan rakyat, bukan segekintir pihak..

Artikel Lainnya

Feb 10 2025

Urgensinya Junnah Bagi Pelindung Anak-anak Gaza

Oleh : Ayin Harlis (Aktivis Muslimah Bekasi) Kondisi anak-anak Gaza makin mengenaskan, satu anak tewas setiap jamnya dan dalam hampir 15...
Apr 15 2025

Swasembada Daging, Kapankah Terwujud?

Oleh : Kartini Rosmalah Wabah PMK (penyakit mulut dan kuku) pada hewan ternak mengancam populasi sapi potong di Kabupaten Bekasi yang...
Feb 10 2025

Ormas Kelola Tambang jadi Peluang atau Ancaman

Oleh : Irta Roshita (Aktivis Muslimah Bekasi) Ormas (Organisasi Masyarakat) keagamaan baru-baru ini ditawarkan mengelola Wilayah Izin...
May 13 2025

NARKOBA MAKIN BEBAS, NEGARA LALAI

Oleh : Kartini Rosmalah (Dosen Ilmu Komunikasi) Bekasi darurat, remaja berstatus mahasiswa ditangkap polisi gara-gara ditemukan ganja di...
Oct 04 2025

Kisruh Aksi Demo, Bukti Kekecawaan Rakyat

Oleh : Kartini Rosmalah D.K. (Dosen Ilmu Komunikasi, Unisma Bekasi) Akhir Agustus lalu, Indonesia mencekam. Kemarahan rakyat tak...
Feb 09 2026

Satu Bulan Bencana, Keselamatan Rakyat Masih Taruhan

Oleh: Yova Meiliza Bencana besar yang menghantam tiga provinsi di Sumatera sudah berjalan selama lebih dari satu bulan sejak kejadian...
Sep 05 2025

Pasar Modern Multi Fungsi, Benarkah Demi Masyarakat Urban?

oleh : Ayin Harlis (Aktivis Muslimah Bekasi) Apa yang kita bayangkan bila seseorang menyebut pasar tradisional? Pedagang berjejalan, bau...
Feb 10 2025

Pagar Laut Muncul di Bekasi, Dimana Pemimpin Pengurus Umat?

oleh : Khusnul Khatimah (Aktivis Muslimah Bekasi) Istilah pagar laut belakangan ini sedang ramai diperbincangkan lantaran luas dan...
Jun 26 2024

Menyiapkan Ember Rezeki

Melihat banyaknya konten flexing di sosial media yang memamerkan berlimpahnya harta,  mudahnya bagi-bagi uang, makan makanan enak di...
Jul 15 2025

Maraknya Bangunan Liar, Dimana Negara?

Oleh : Irta Roshita (Aktivis Muslimah Bekasi) Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir di setiap wilayah kota banyak terdapat bangunan liar...
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments