Ketika Air Menjadi Komoditas, Ancaman Krisis Air dalam Sistem Kapitalisme

by | Jul 6, 2026 | Gaya Hidup

Oleh: Rahmawati, S.Pd.

Musim kemarau 2026 mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat sedikitnya tujuh titik di dua kecamatan mulai terdampak kekeringan.

Kondisi tersebut menjadi tanda awal ancaman bencana hidrometeorologi yang diperkirakan akan meluas pada puncak kemarau beberapa bulan mendatang. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi Muchlis mengatakan, hingga Minggu (14/6/2026), kekeringan telah berdampak terhadap 641 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.650 jiwa.
(megapolitan.kompas.com).

Atas peristiwa ini, BPBD meminta masyarakat, khususnya di wilayah rawan kekeringan, untuk mulai menyiapkan sarana penampungan air guna mengantisipasi krisis air bersih selama musim kemarau.

Kekeringan yang terjadi saat ini tidak sepenuhnya proses alam, karena jika pengelolaan alam dilakukan dengan benar, maka kekeringan akan bisa diminimalisasi. Artinya alam yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta telah menyediakan sumber air bagi penghuninya jika manusia mengelola dengan benar dengan prinsip kelestarian. Maka tentu tidaklah cukup solusi yang diberikan oleh pemerintah hanya dengan memasok air saja, sedangkan pendistribusiannya tidaklah merata ke seluruh wilayah yang mengalami kekeringan.

Akibat keserakahan kapitalislah yang menyebabkan hilangnya keseimbangan alam. Eksploitasi alam yang ugal-ugalan menyebabkan kondisi miris, jika musim hujan banjir dan jika kemarau kekeringan. Selain itu juga di tangan para kapitalis yang rakus, kerusakan lingkungan meluas hingga menyebabkan perubahan iklim ekstrem dan kekeringan.

Kapitalisme dengan asas sekuler merupakan sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan. Aturan buatan manusia inilah yang menyebabkan kehidupan di semua bidang karut marut. Sistem ini hanya mengutamakan kepentingan para pemilik modal saja tanpa memikirkan nasib rakyat. Seharusnya pemerintah menyelesaikan kekeringan ini dengan fokus dan serius, bukan memikirkan keuntungan sebelah pihak.

Solusi untuk permasalahan ini hanyalah dengan Islam, karena Islam satu-satunya yang mampu menyeselesaikan semua permasalahan di segala bidang termasuk kekeringan. Melalui penerapan aturan yang datang dari Sang Khaliq maka kehidupan umat akan tertata. Seorang pemimpinlah yang akan meriayah (mengurus) umat untuk keberlangsungan hidupnya. Sabda Rasulullah saw.: “Imam/khilafah itu laksana pengembala dan hanya dia yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun terkait SDA (Sumber Daya Alam), negara akan mengembalikan kepemilikannya kepada rakyat karena SDA terkategori milik umum. Hutan, air, sungai, danau, laut adalah milik rakyat secara keseluruhan. Sabda Rasulullah saw.: “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu rumput, air, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Kemudian negara akan mengelola secara langsung dalam proses produksi dan distribusi air.

Negara juga akan melakukan pengawasan atas berjalannya pemanfaatan air seperti peningkatan kualitas air dan menyalurkan kepada masyarakat melalui industri air bersih perpipaan secara gratis, hingga kebutuhan masyarakat atas air terpenuhi dengan baik. Jika pun umat dikenakan biaya, maka pembiayaannya hanya untuk pengadaan saluran pipa saja.

Selain yang demikian, negara juga akan mengeluarkan biaya pemeliharaan konversi lahan hutan agar resapan air tidak hilang. Negara akan mengedukasi masyarakat agar bersama-sama menjaga lingkungan, melakukan pembiasaan hidup bersih dan sehat, serta memberi sanksi tegas terhadap pelaku kerusakan lingkungan.

Demikianlah mekanisme Islam dalam mengatur tata kelola SDA dengan terperinci. Hanya melalui penerapan Islam secara kaffah kehidupan umat akan terjaga, berkah dan sejahtera. Untuk itu, sudah seharusnya negara memakai aturan Islam untuk kehidupan dan membuang jauh-jauh sistem kufur yang saat ini sedang diemban.

Wallahualam bissawab

Artikel Lainnya

Aug 05 2026

Pelatihan Usaha Mikro: Solusi atau Sekadar Formalitas

Oleh: Neta Sayyidah (Aktivis Muslimah Bekasi) Belajar bisnis membutuhkan ilmu. Namun, yang lebih dibutuhkan adalah dukungan dan...
May 13 2025

NARKOBA MAKIN BEBAS, NEGARA LALAI

Oleh : Kartini Rosmalah (Dosen Ilmu Komunikasi) Bekasi darurat, remaja berstatus mahasiswa ditangkap polisi gara-gara ditemukan ganja di...
Jul 15 2025

Ada Allah Dalam Setiap Urusan

Oleh : Yova Meiliza (Aktivis Muslimah Bekasi) Pernah gak sih, suatu hari kita melakukan rutinitas harian tapi kok rasanya hampa? Seperti...
Jul 25 2024

3 Ciri Orang Yang Pandai Mengelola Keuangan

Artikel ini ditulis oleh : Yova Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia...
Jul 29 2024

8 Karakter  yang harus dimiliki para pendidik sukses

Ada 8 karakter mendasar yang apabila seorang pengajar memilikinya, maka akan banyak membantunya dalam melaksanakan aktivitas...
May 13 2025

Kekuasaan :  Kesempatan Memperkaya Diri Dalam sistem Kapitalisme

Oleh : Irta Roshita (Aktivis Dakwah) Bukan hanya rumah yang di pagar, ternyata lautan yang begitu luasnya juga di pagari oleh oknum-oknum...
Sep 05 2025

80 Tahun Kemerdekaan, Kesejahteraan Rakyat Dipertanyakan

oleh : Irta Roshita (Aktivis Muslimah Bekasi) Ibarat manusia usia 80 tahun adalah usia yang sudah lanjut dan pastinya sudah banyak...
Dec 15 2025

PERAN MUSLIMAH BERDAYA MEMBANGUN PERADABAN YANG KOKOH

Oleh : Lily Kirey (Aktivis Muslimah Bekasi) Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, menghadiri pelantikan DPD Alisa Khadijah Ikatan...
Jun 12 2025

Kemiskinan Sekedar Angka? (Refleksi Standar BPS dan Bank Dunia)

oleh : Rayhana Radhwa (Narasumber Majelis Taklim Kamila) Bank Dunia merilis laporan bahwa penduduk miskin Indonesia mencapai 171,8 juta...
Sep 23 2024

Adab Menasehati

Oleh : Yova Meiliza Dalam hadits dari Tamim Ad Dariy radhiallahu’anhu, Rasulullah Saw bersabda:“Agama adalah nasehat”. Para sahabat...
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments