Ketahanan Rumah Tangga Runtuh Akibat Ekonomi

by | Feb 9, 2026 | Gaya Hidup

Oleh : Irta Roshita

Pengadilan Agama banyak sekali menerima kasus perceraian, dari cerai gugat hingga cerai talak, sejak 11 Desember 2025 pengadilan agama menerima 4.724 perkara perceraian. Perkara cerai sebanyak 3.555 merupakan cerai gugat dan 1.187 cerai talak.

Panitera  Muda Hukum pengadilan agama Bekasi, Supriyanto mengatakan, dari sekian perkara tahun 2025  didominasi ekonomi, yang menjdi pemicu keretakan rumah tangga adanya prilaku digital dari pasangan suami istri, yakni judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) yang saling berkaitan.

Hubungan perselingkuhan juga menjadi faktor, namun perkara ini sedikit. Kestabilan ekomoni dan gaya hidup yang mendesak mengakibatkan terjeratnya judol dan pinjol. Dampaknya kekurangan uang  dan hilang kepercayaan diri akibat hutang yang banyak.

Pelaku judol yang akhirnya terdesak untuk melakukan pinjol yang sering sekali tidak diketahui oleh pasangan, hingga berujung pada konflik rumah tangga yang serius.

Pengelolaan yang salah

Kehidupan dalam sistem kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan dan menjadi tolak ukur  kebahagian, sehingga hidup akan gelisah dan bermasalah ketika kekurangan materi. Adanya kebebasan dalam lingkungan pergaulan mengakibatkan terjadinya kemaksiatan seperti zina dan perselingkuhan.

Kesenjangan kehidupan semakin lebar, harga-harga kebutuhan yang meningkat hanya orang orang yang berduit saja yang bisa menikmati hidup. Bagi mereka yang tidak tercukupi kehidupan materinya menjadi gelisah dan banyak ditimpa masalah.

Sumber Daya Alam (SDA) yang seharusnya sebagai pemasukan negara namun  dikelola oleh pihak swasta, sehingga negara tidak mampu melayani rakyatnya dengan baik. Negara berbisnis dengan rakyatnya agar meraup keuntungan kepada rakyatnya. Hal ini menjadi tekanan hidup yang berat  terlebih pada pasangan hidup yang ekonominya belum stabil, sering terjadi perselisihan bahkan berakhir pada perceraian.

Sekulerisme juga menjadikan agama jauh dari tuntunan dalam kehidupan berumah tangga. Seharusnya tujuan pernikahan adalah ibadah yang membawa ke Jannah, namun tujuan rumah tangga membawa kebahagiaan yang bersifat materi. Sistem sekulerisme  menyebabkan rumah tangga rapuh hingga menuju kehancuran, hal ini berimbas kepada generasi yang rapuh dan rusak.

Rumah tangga dalam ketaatan

Islam memiliki aturan yang lengkap dan mampu mengatur dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. Semua masalah dapat diselesaikan dengan solusi islam, termasuk  perkara perceraian akan diselesaikam dengan islam.

Pernikahan berjalan sama-sama dalam rangka menuju ketaaan kepada Allah, berjalannya hak dan kewajiban antara suami istri, kehidupan keluarga yang harmonis akan melahirkan generasi yang sehat mental dan generasi yang kuat dan tangguh .

Keluarga dibangun dengan landasan aqidah, sehingga akan terbentuk nilai-nilai islam yang akan menjaga berjalannya fungsi peranan antara suami dan istri. Suami akan menjadi qowwam dan pelindung dalam keluarganya dan istri menjadi ummu wa robatul bait, sebagai ibu pengasuh dan pendidik anak-anaknya dan juga peranan sebagai istri dalam rumah tangga suaminya.

Permasalahan ekonomi, harga yang mahal, dan sulitnya suami dalam mencari lapangan pekerjaan akan mudah diatasi ketika negara memberlakukan sistem ekonomi islam. Sumber Daya Alam juga seharusnya dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyatnya.

Pendidikan islam akan membentuk setiap individu yang memiliki kepribadaian islam. Setiap individu akan memiliki bekal kehidupan dan memiliki ketaqwaan kepada sang pencipta. Hal ini akan terwujud sebagai amal dalam pernikahan.

Wallahu’alam bish-showab

Artikel Lainnya

Dec 15 2024

Bermanfaat Bagi Orang Lain

Oleh : Yova Meiliza Manusia adalah mahluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain dan tidak bisa sendiri. Dalam perjalanan hidup...
Dec 15 2025

Air Keruh yang Kian Mengeruh di Bawah Bayang Pengelolaan Kapitalistik

Oleh : Dewinda Pratiwi (Aktivis Muslimah Bekasi) Keluhan warga Bekasi terhadap air keluaran Tirta Patriot yang tampak keruh dan berbau...
Oct 04 2025

Duck Syndrome, Fake Perfect Ala Kapitalisme

oleh : Dewinda Pratiwi (Aktivis Muslimah Bekasi) Dalam era modern ini, semakin banyak generasi muda, terutama mahasiswa, yang terjebak...
Dec 14 2024

Seorang Mukmin Bukanlah Yang Suka Berkata Buruk

Oleh : Yova Meiliza Pernah tidak mendengar kata "anjaylah…" atau "anjir…" ? Mungkin pernah atau malah sering. Apa yang terbersit kalau...
Dec 14 2024

Ironi Hari Guru, Kriminalisasi Guru Meningkat

Oleh : Kartini Rosmalah (Dosen Ilmu Komunikasi) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) membuat apreasiasi...
Feb 09 2026

Satu Bulan Bencana, Keselamatan Rakyat Masih Taruhan

Oleh: Yova Meiliza Bencana besar yang menghantam tiga provinsi di Sumatera sudah berjalan selama lebih dari satu bulan sejak kejadian...
Sep 05 2025

One Piece dan Suara Ketidakadilan

Oleh : Kartini Rosmalah D.K. (Dosen Ilmu Komunikasi, Unisma Bekasi) Tak terasa sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Kibaran bendera berjejer...
Jul 22 2024

Judi Online Merajalela, Hidup Makin Sengsara

Sejarah Judi di Indonesia Berdasarkan literatur dan informasi yang telah ditelusuri ternyata ditemukan bahwa judi sudah ada dari 4000...
Feb 10 2025

Lupa Bersyukur

Oleh : Yova Meiliza Bersyukur itu mudah tapi tidak semua orang bisa melakukannya. Lihatlah, kita punya motor yang bisa membawa kita pergi...
Jun 12 2025

Kemiskinan Sekedar Angka? (Refleksi Standar BPS dan Bank Dunia)

oleh : Rayhana Radhwa (Narasumber Majelis Taklim Kamila) Bank Dunia merilis laporan bahwa penduduk miskin Indonesia mencapai 171,8 juta...
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments