Duck Syndrome, Fake Perfect Ala Kapitalisme

by | Oct 4, 2025 | Gaya Hidup

oleh : Dewinda Pratiwi (Aktivis Muslimah Bekasi)

Dalam era modern ini, semakin banyak generasi muda, terutama mahasiswa, yang terjebak dalam fenomena Duck Syndrome — sebuah kondisi di mana seseorang tampak tenang dan sempurna di permukaan, tetapi sebenarnya sedang “berenang panik” di bawah air demi memenuhi ekspektasi dan tekanan kehidupan. Istilah ini diambil dari perilaku seekor bebek yang tampak mengapung tenang di atas air, namun kakinya bekerja keras di bawah permukaan agar tetap bergerak.
Fenomena ini tidak lagi terbatas di lingkungan kampus. Kini, kelas menengah Indonesia pun mengalami gejala serupa, terjebak dalam gaya hidup yang menuntut kesempurnaan penampilan, pencapaian, dan status sosial. Di balik unggahan media sosial yang terlihat bahagia dan mapan, banyak yang sebenarnya sedang berjuang menghadapi stres, tekanan ekonomi, dan krisis identitas.

Fakta Kesehatan Mental & Depresi Mahasiswa di Indonesia
Survei terkini menunjukkan bahwa 22,4% dari mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Indonesia mengalami gejala depresi. Dari mereka, 3,3% mengaku lebih baik mengakhiri hidup atau melukai diri. Tingkat depresi ringan hingga berat ada dalam berbagai kategori: ringan, sedang, berat. Penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara menemukan bahwa dari 238 mahasiswa angkatan pertama, sekitar 28,2% mengalami depresi (ringan sampai sedang, parah). Studi di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana tahun 2019 menunjukkan bahwa 23,8% mahasiswa yang sedang menyusun skripsi mengalami depresi.

Banyak mahasiswa di Indonesia yang secara nyata menunjukkan gejala stres, depresi, masalah tidur, dan ide bunuh diri, meskipun di luar mereka kelihatan aktif dan “berhasil”. Banyak faktor eksternal yang mendukung kondisi ini, yaitu diantaranya tekanan akademik, tuntutan organisasi, kecanduan media sosial / eksposur berlebihan, biaya hidup yang tinggi, ekspektasi dari masyarakat/keluarga.
Kondisi kelas menengah memperlihatkan bahwa meskipun memiliki akses ke sumber daya materi, tekanan untuk mempertahankan citra dan standar menjadi beban tersendiri.

Akar Masalah: Kapitalisme dan Sekulerisme
Duck Syndrome tidak muncul tanpa sebab. Beberapa faktor pemicunya antara lain, yaitu tekanan eksternal: Tuntutan keluarga, lingkungan, hingga media sosial. Ekspektasi tinggi, baik dari diri sendiri maupun orang lain, yang seringkali tidak realistis.

Gaya hidup konsumtif juga Keinginan untuk selalu tampil sempurna dan terlihat sukses secara materi.
Semua ini berpangkal pada sistem kapitalisme, yang menjadikan materi sebagai tolak ukur kesuksesan hidup. Dalam sistem ini, kebahagiaan diukur dari seberapa banyak yang dimiliki — rumah mewah, kendaraan mahal, pakaian bermerek, gaya hidup hedonis. Akibatnya, individu berlomba-lomba mengejar standar “sempurna” yang semu, meski harus mengorbankan kesehatan mental, waktu, dan bahkan harga diri.

Sekulerisme—yang memisahkan agama dari kehidupan—membuat banyak orang merasa harus menyelesaikan semua beban hidup sendirian. Ketika hidup hanya berporos pada pencapaian materi, dan tidak ada sandaran spiritual, maka kelelahan mental menjadi tak terelakkan. Tidak heran jika tingkat depresi, kecemasan, bahkan kasus bunuh diri meningkat di kalangan anak muda.

Solusi Islam: Hidup dengan Standar Ilahiyah
Islam menawarkan solusi mendasar terhadap krisis identitas dan tekanan hidup ini. Dalam Islam, standar kebahagiaan dan kesuksesan tidak diukur dari materi, melainkan dari ketaatan kepada Allah Swt. Hidup bukan tentang terlihat sempurna di mata manusia, melainkan tentang bagaimana menjalani kehidupan sesuai hukum syariat untuk meraih ridho-Nya.
Sistem Islam menempatkan aqidah sebagai fondasi kehidupan. Setiap individu dididik untuk menjadikan takwa dan amal shalih sebagai tujuan utama, bukan pencitraan. Bahkan, dalam naungan Khilafah Islam, negara memiliki peran aktif menjaga ketakwaan warganya melalui pendidikan berbasis aqidah Islam, bukan sekadar kurikulum penghasil tenaga kerja.
Media yang membangun kepribadian Islam, bukan merusak mental dan menebar standar palsu.
Aturan sosial dan ekonomi yang adil, yang mencegah eksploitasi dan kesenjangan.
Pergaulan yang sehat dan penuh tanggung jawab, tidak membebani individu dengan standar kosong.

Hidup Nyata, Bukan Pura-Pura. Duck Syndrome sejatinya adalah panggilan sadar bagi masyarakat hari ini bahwa sistem yang kita anut telah menciptakan generasi yang lelah, tertekan, dan kehilangan arah. Selama standar hidup diukur dari apa yang tampak, bukan dari makna sejati, maka generasi akan terus hidup dalam kepalsuan.

Islam datang bukan hanya sebagai agama ritual, tapi sebagai rahmat bagi seluruh alam, menawarkan panduan hidup yang realistis, menenangkan, dan menjamin kebahagiaan hakiki — di dunia dan akhirat.

Artikel Lainnya

May 15 2026

Kebijakan WFH Bagi Pekerja, Dampak Krisis Energi, Tepatkah?

Oleh: Alifia (Aktivis Remaja Muslimah Bekasi) Pemerintah resmi menerapkan kebijakan WFH bagi ASN 1 hari dalam seminggu (mulai April 2026)...
Feb 10 2025

Alih Fungsi Lahan Sebab BanjirTerus Mengintai Rakyat

Oleh : Irta Roshita (Aktivis Muslimah Bekasi) Diawal tahun Januari 2025 , cuaca menyebabkan berbagai bencana seperti banjir dn tanah...
May 15 2026

Kekerasan Seksual Verbal, Cermin Kerusakan Sistem Sosial

Oleh: Netta Sayyidah (Aktivis Muslimah Bekasi) Sudah bukan hal yang tabu pengaruh dan bahaya pornografi menjdi hal yang biasa, hal ini...
Jun 15 2026

Tenaga Asing Masuk, Hak Rakyat Tergeser

oleh : Wiwin Winarti Pengantar Sebanyak 78 warga negara asing (WNA) diamankan dalam operasi pengawasan keimigrasian di kawasan Greenland...
Dec 15 2024

Bermanfaat Bagi Orang Lain

Oleh : Yova Meiliza Manusia adalah mahluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain dan tidak bisa sendiri. Dalam perjalanan hidup...
Aug 05 2026

Pelatihan Usaha Mikro: Solusi atau Sekadar Formalitas

Oleh: Neta Sayyidah (Aktivis Muslimah Bekasi) Belajar bisnis membutuhkan ilmu. Namun, yang lebih dibutuhkan adalah dukungan dan...
Aug 19 2024

Judi Online : Haram pun Bisa Jadi Halal

Oleh : Irta Roshita (Aktivis Muslimah Kota Bekasi) Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi menyerukan semangat kemerdekaan...
Jun 25 2024

Modal Dasar Menjadi Orang Tua

Pertanyaan dalam judul di atas sangat menggelitik dan membuat saya bercermin untuk menjawab pertanyaan itu. Siap nggak ya saya menjadi...
Dec 14 2024

Uang Palsu Merebak, Bukti Negara Tidak Stabil

Oleh: Irta Roshita (Aktivis Muslimah Bekasi) Kebutuhan hidup manusia dapat dipenuhi ketika uang dimiliki. Uang adalah alat tukar yang...
Sep 23 2024

Adab Menasehati

Oleh : Yova Meiliza Dalam hadits dari Tamim Ad Dariy radhiallahu’anhu, Rasulullah Saw bersabda:“Agama adalah nasehat”. Para sahabat...
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments