Kecacingan Berulang Lagi, Penguasa Tak Bebenah Diri?

by | Oct 4, 2025 | Gaya Hidup

Oleh: Rayhana Radhwa (Pemerhati Ibu dan Anak)

Kalau kita mendengar kata cacing tentu yang terbersit adalah tanah. Namun, kini saat kita mendengar kata cacing maka kita akan mengingat balita-balita yang dari mulut dan hidungnya keluar cacing. Kasus kecacingan memang terjadi lagi. Kali ini di Tapo Kecil, Seluma, Bengkulu, ada dua balita kakak beradik berumur 4 tahun dan belum genap 2 tahun dibawa ke Rumah Sakit RSUD Tais pada Minggu, 14 September 2025 (mediaindonesia.com, 17/09/25).

Padahal belum kering air mata ini waktu kita digegerkan kisah gadis mungil bernama Raya yang meninggal di usia 3 tahun dengan gejala yang sama. Raya dibawa ke RSUD Sekarwangi pada 13 Juli 2025 dalam keadaan koma. Raya yang bertempat tinggal di Sukabumi menghembuskan nafas terakhirnya akibat infeksi cacing gelang yang menyerang organ vitalnya. Selama perawatan, relawan menyaksikan kondisi mengenaskan: cacing hidup keluar dari hidung, mulut, anus, bahkan alat kelaminnya. Selain infeksi parah tersebut, Raya juga diduga mengalami komplikasi tuberkulosis meningitis yang kian memperburuk keadaannya.

Kehidupan keluarga Raya penuh keterbatasan. Ayahnya sakit-sakitan, ibunya diduga mengalami gangguan kejiwaan, dan Raya sendiri tidak memiliki dokumen identitas. Saat dievakuasi ke rumah sakit, penanganan medis terkendala birokrasi karena ketiadaan dokumen kependudukan dan BPJS. Relawan sudah berusaha mengurus administrasi, namun birokrasi yang berbelit membuat penanganan berjalan lamban sementara kondisi Raya terus memburuk. Rumah sakit pun membebankan biaya perawatan kepada keluarga, yang dalam sembilan hari mencapai puluhan juta rupiah dan mustahil mereka tanggung. Pada akhirnya, Raya meninggal dunia pada 22 Juli 2025.

Aspek Medis: Infeksi Cacing yang Mematikan
Dari sisi medis, kasus kakak beradik di Bengkulu dan Raya sesuai dengan askariasis berat akibat cacing gelang Ascaris lumbricoides. Siklus hidup Ascaris bermula dari telur yang masuk lewat makanan atau air tercemar. Setelah menetas di usus, larvanya bermigrasi ke paru-paru, lalu naik ke tenggorokan, tertelan lagi, dan tumbuh menjadi cacing dewasa di usus. Sanitasi yang buruk, akses air bersih terbatas, dan rendahnya kesadaran kebersihan tangan menjadi pemicu suburnya siklus tersebut. Infeksi parah dapat menimbulkan komplikasi serius, mulai dari sumbatan usus, perdarahan, malnutrisi, anemia, hingga melemahnya sistem imun.

Autopsi Sosial: Mengapa Sistem Gagal?
Kematian Raya memperlihatkan kegagalan sistem pada beberapa lapisan:
• Kemiskinan Multidimensi. Rumah balita-balita ini hanyalah bangunan sederhana di atas tanah yang tercemar kotoran manusia dan hewan. Ketiadaan jamban sehat dan air bersih menjebak anak-anak pada siklus penyakit. Pemerintah seharusnya segera menginspeksi agar tidak ada rakyat yang tidak memiliki jamban sehat dan akses air bersih.

• Kelemahan Layanan Dasar. Program kesehatan masyarakat memang ada, namun sering kali tidak menjangkau kelompok yang paling rentan, termasuk anak tanpa identitas atau keluarga dengan kondisi khusus. Ditambah lagi sistem kesehatan yang masih mengandalkan program reaktif daripada preventif.

• Masalah Administrasi. Absennya dokumen resmi dan BPJS menjadi penghalang serius. Sayangnya, birokrasi tidak memiliki mekanisme darurat yang mengutamakan penyelamatan jiwa.

• Respons yang Bergantung pada Viral. Aksi cepat baru muncul setelah kasus ini viral, sementara banyak kasus serupa tak terekspos publik dan berakhir tanpa solusi.

Cermin Kegagalan Bersama
Kematian Raya dan kasus cacingan balita di Bengkulu bukan sekadar kabar duka, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih dalam sebagai pengingat pahit akan lemahnya akses kesehatan dan perlindungan sosial di Indonesia. Tragedi ini mencerminkan rapuhnya sistem perlindungan kesehatan anak, di mana penyakit yang tampak sederhana seperti infeksi cacing dapat merenggut nyawa ketika berpadu dengan kemiskinan, akses layanan terbatas, dan birokrasi yang lamban. Kegagalan terjadi secara berlapis, mencakup aspek medis, sosial, dan administratif yang saling terkait dan saling memperparah. Dalam konteks ini, kematian seorang anak tidak lagi dapat dianggap sebagai kasus individu, melainkan sebagai cerminan kegagalan kolektif kita dalam melindungi kelompok paling rentan di masyarakat.

Jalan keluarnya sudah jelas: perkuat pencegahan, perbaiki sanitasi, sederhanakan administrasi, serta tingkatkan deteksi dini. Bagi pemerintah dan masyarakat, ini adalah alarm keras bahwa sistem kesehatan harus lebih manusiawi dan responsif.

Sistem Kesehatan dalam Islam
Dalam sistem Khilafah, kesehatan dianggap sebagai hak dasar setiap warga negara yang wajib dipenuhi oleh negara. Negara bertanggung jawab memastikan kesehatan fisik, mental, dan lingkungan melalui aparat dari tingkat pusat hingga daerah. Pelayanan kesehatan dalam sistem ini tidak hanya dilihat sebagai pemenuhan kebutuhan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah, sehingga setiap petugas bekerja secara amanah dan penuh tanggung jawab.

Khilafah menyediakan seluruh fasilitas pengobatan dan rehabilitasi, termasuk dana dari baitulmal untuk menanggung seluruh biaya pasien tanpa memandang status sosial atau administratif. Pelayanan kesehatan bersifat menyeluruh dan tidak diskriminatif, serta mengutamakan tindakan preventif dan kuratif secara bersamaan. Negara juga melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi sanitasi dan gizi masyarakat guna mencegah penyakit sejak dini.

Jika ditemukan kasus kecacingan, negara akan segera turun tangan melalui investigasi epidemiologis dan penyisiran lingkungan oleh ahli kesehatan masyarakat untuk mencegah penyebaran lebih luas. Pemerintah juga menjamin kebutuhan dasar keluarga, termasuk tempat tinggal yang layak, akses air bersih, serta pendidikan bagi anak-anak jika orang tua mereka tidak mampu.

Negara bertindak cepat, tanpa birokrasi berbelit, dan menjamin akuntabilitas tinggi dari para aparatnya. Dalam sistem ini, kemiskinan ekstrem dianggap sebagai kegagalan negara, sehingga setiap kasus kelalaian akan mendapat pertanggungjawaban langsung dari pejabat terkait hingga Khalifah. Dengan sistem yang tertata dan bertanggung jawab ini, kejadian tragis seperti yang menimpa Raya diyakini hampir tidak akan terjadi.

Artikel Lainnya

Jun 26 2024

Menyiapkan Ember Rezeki

Melihat banyaknya konten flexing di sosial media yang memamerkan berlimpahnya harta,  mudahnya bagi-bagi uang, makan makanan enak di...
Dec 15 2024

Tawuran Makin Menjadi, Remaja Krisis  Jati Diri

Oleh: Rayhana Radhwa (Ibu Rumah Tangga, tinggal di Kota Bekasi) Kronis sudah peliknya problem tawuran di Bekasi. Misan (52), warga Bekasi...
Sep 05 2025

One Piece dan Suara Ketidakadilan

Oleh : Kartini Rosmalah D.K. (Dosen Ilmu Komunikasi, Unisma Bekasi) Tak terasa sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Kibaran bendera berjejer...
Aug 10 2026

EFEK DOMINO EFISIENSI ANGGARAN YANG DITERAPKAN PEMERINTAH PUSAT

Oleh : Rika Erisawaty (Konsultan Bisnis Syariah) Anggaran Pendapatan & Belanja Negara (APBN) menjadi instrumen utama pemerintah dalam...
Mar 14 2026

Kapitalisme dan Rapuhnya Jaminan Pendidikan bagi Rakyat

oleh: Dewinda Pratiwi Peristiwa tragis yang menimpa seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur menyentak...
Jul 26 2024

Pahala Menafkahi Istri dan Anak

Nafkah yang diberikan seorang suami kepada istrinya memiliki pengaruh yang baik dalam kehidupan rumah tangga. Salah satu alasan munculnya...
May 13 2025

Kita Kira Kita Punya Waktu

Oleh : Yova Meiliza Kita kira kita punya waktu. Jadi dengan santai menunda waktu sholat dengan alasan tanggung mengerjakan tugas. Kita...
Feb 09 2026

Ketahanan Rumah Tangga Runtuh Akibat Ekonomi

Oleh : Irta Roshita Pengadilan Agama banyak sekali menerima kasus perceraian, dari cerai gugat hingga cerai talak, sejak 11 Desember 2025...
Dec 15 2024

Pilkada, Butuh Perubahan Atau Tidak ?

Oleh : Irta Roshita (Aktivis Muslimah Bekasi) Memasuki bulan November serentak seluruh wilayah di Indonesai melakukan pemilihan Pilkada...
Jul 15 2025

Fantasi Amoral Berujung Bui

Oleh : Aryanti Budi (Aktivis Muslimah Bekasi)Dunia maya telah dikejutkan dengan terkuaknya grup Facebook bernama "Fantasi Sedarah", yang...
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments