
Oleh : Estiningsih (Aktivis Muslimah Bekasi)
Jalan bukan hanya sekedar sebuah rute lalu lalang orang berkendara atau melintas. Jalan memiliki peranan penting dalam hal aktivitas perekonomian dan pendorong kegiatan lainnya. Namun sampai saat ini nampaknya jalan yang layak pakai bagi rakyat masih jauh dari layak untuk dinikmati khususnya jalan umum. Salah satu kasus yang terjadi baru-baru ini adalah jalan umum di jalan CBL yang terletak di sasak bakar, desa kertamukti, kecamatan cibitung. Jalan CBL mengalami kerusakan parah sebab adanya tanah amblas di wilayah tersebut. Kondisi ini mengancam pengendara yang melintas baik roda dua maupun roda empat. Di sisi lain, meski Bupati Bekasi sudah meninjau lokasi tersebut namun hingga kini perbaikan belum juga dilakukan.
Sementara itu di desa sukajaya, Kecamatan cibitung, kabupaten bekasi, menjadi sorotan warga setempat. Kondisi jalan licin dan berlumpur akibat proses perbaikan yang terhenti. Akibatnya banyak pengendara roda dua terjatuh dan aktivitas warga terganggu. Kepala dinas sumber daya air bina marga dan Bina Konstruksi (SDA-BMBK) mengatakan bahwa kondisi ini terjadi karena ruas jalan tersebut sedang dalam tahap pemasangan pondasi. Namun proses perbaikan terhambat akibat kelangkaan material beton.
Dari dua contoh kasus diatas dan alasan yang dikemukakan dari pemda setempat cermin bahwasannya proyek tersendat bukti kapitalisme hanya mengincar profit, Untung-Rugi. Bukan kebutuhan rakyat. Sistem sekuler menjauhkan negara dari rasa tanggung jawab menjaga keselamatan rakyat. Akibatnya rakyat jadi korban. Kondisi perbaikan yang dilakukan setengah-setengah hanya karena proyek tender, bukan mementingkan pelayanan publik. Kualitas terabaikan demi lebih mementingkan keuntungan daripada kenyamanan dan keamanan pengguna jalan. Dari sini bisa kita menilai penguasa tidak amanahnya dalam memegang jabatan. Dalam sekularisme amanah penguasa diabaikan. Jabatan politik tidak dianggap tanggung jawab dihadapan Tuhan tapi sekedar kekuasaan.
Di dalam islam amanah seorang penguasa yang akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil hisab. Bagaimana seorang penguasa menjaga dan melindungi keselamatan rakyatnya. Seperti kisah khalifah Umar Bin Khattab radiyallah anhu yang sangat peduli dengan kondisi rakyatnya. Bahkan beliau khawatir jika jalanan rusak membuat seekor keledai terperosok. Ini adalah gambaran bagaimana seharusnya seorang penguasa memikirkan keselamatan rakyatnya bahkan hewan pun dipikirkan pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Islam mewajibkan negara mengelola infrastruktur langsung yang mana dananya didapat dari baitul mal. Dan baitul mal ini yang digunakan negara untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Tidak seperti saat ini di mana pungutan pajak di berbagai sektor, di dalam islam pemasukan untuk baitul mal seperti Kharaj, Jizyah, Ghonimah, segala sumber daya alam (tambang, hutan, padang rumput, laut dll). Dengan demikian negara bisa cepat bertindak dalam memperbaiki fasilitas demi kenyamanan dan keselamatan rakyatnya. Ketika negara yang dibangun atas dasar sistem islam, maka kesejahteraan, kenyamanan dan keselamatan bisa dinikmati rakyat khususnya.
-Wallalhu’alambishawab-